Sejarah Perekonomian Indonesia
A. LATAR BELAKANG
Sejarah
menguraikan rangkaian-rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu, sehingga
tergambar dengan jelas perubahan-perubahan yang terjadi dalam satu kurun waktu.
Perubahan-perubahan tersebut bisa melaihrkan keadaan sekarang lebih baik
ataupun lebih buruk dari keadaan masa lalu. Apakah setelah sekian tahun
dilakukan pembangunan ekonomi, keadaan ekonomi sekarang lebih maju atau lebih
mundur. Hal ini perlu kita nilai berdasarkan tolok ukur atau kriteria kemajuan
ekonomi.
Perekonomian
Indoensia kini sudah banyak perubahan, semakin bertambahnya usia bumi ini, maka
semakin berkembang keadaan perekonomian Indonesia. Bahkan bukan hanya di
Indonesia saja yang mulai berubah perekonomiannya, di Negara lain sudah banyak
perubahan-perubahan perekonomiannya. Justru itu seharusnya kita bersyukur apa
yang telah kita didapat di Negeri ini yang mulai berubah perkembangan
perekonomian dan bertambah banyak fasilitas-fasilatas yang begitu bagus.
Seperti adanya alat komukasi yang mulai canggih,transportasi,dan masih banyak
lagi. Walau masih banyak yang belum mendapatkan dampaknya perkembangan di
Indonesia, perlahan-lahan pasti akan ada perubahan perkonomiannya. Maka yang harus kita pahami, bagaimanakah
keadaan perekonomian kita?.
Perkembangan yang terjadi di
Indonesia dan dunia ini semakin lama berlangsung semakin cepat dan sangat sulit
sekali untuk di prediksikan. Perubahan gaya hidup yang kian berubah,yang dulu
di bangun secara berpuluh-puluh tahun kini dapat berubah hanya dalam waktu yang
lumayan singkat. Untuk itu, kita di tuntut berbenah diri untuk siap menghadapi
tantangan. Apabila siap dan bertahan dalam hidup, maka akan dapat
mempertahankan posisi dan keadaan ekonomi kita. dan jika kita lalai maka akan
terombang ambing dan kita tidak akan mendapat hasil yang pernah kita dapat.
B. RUMUSAN
MASALAH
Sejarah
Perekonomian Indonesia?
C. TUJUAN
Untuk dapat mengetahui Searah Perekonomian Indonesia.
SEJARAH
PEREKONOMIAN INDONESIA
A. PERIODE
KOLONIAL
(1) Karakteristik
a.
Ciri
perekonomian kolonial:
-
Pada
jaman Kolonial belanda, ekonomi Indonesia diwarnai oleh suatu strategi yang
melahirkan dualisme dalam kegiatan ekonoi, yaitu dualisme antara sektor ekspor
(enclave) dan sektor tradisonal (hinterland). Sektor ekspor diwakili dengann
kehadiran perkebunan-perkebunan di daerah pedesaan.
-
Pendirian
perkebunan di daerah pedesaan semata-mata karena pertimbangan lokasi yang
menguntungkan (tanah subur, iklim cocok) dan bukan untuk menciptakan lapangan
-
Pasar
dunia dan sektor ekspor terpisah dengan sektor tradisional, karena sektor
ekspor berhubungan langsung dengan pasar dunia dan mendapat proteksi dari
pemerintah.
b.
Konsep
Dualisme
Sejak jaman
penjajahan sampai saat ini perekonomian Indonesia masih juga menunjukkan
ciri-ciri adanya dualisme, baik dualisme yang bersifat teknologis, maupun yang
bersifat ekonomis, sosial dan kultural. Boeke memberikan definisi masyarakat
dualistis:
“Masyarakat yang mempunyai dua gaya
sosial berbeda, yang masing-masing hidup berdampingan. Dalam proses evolusi
sejarah normal yang berlaku bagi masyarakat homogen, kedua gaya sosial tersebut
mewakili tahap perkembangan sosial yang berbeda, dipisahkan oleh suatu gaya
sosial lain yang mewakili tahap transisi, misalnya : masyarakat sebelum
kapitalisme dan masyarakat kapitalisme maju yang dipisahkan oleh masyarakat
kapitalisme awal….”
(2) Statistik Ekonomi Kolonial
a.
Kedudukan
dan Fungsi Hindia Belanda
-
Sistem
pemerintahan Kolonial (Hindia Belanda) menciptakan sistem ekonomi kolonial yang
diarahkan untuk memenuhi kepentingan negeri Belanda. Maka Hindia belanjda
sebagai negeri jajahan dijadikan sebagai :
1)
Daerah
penghasil bahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri negeri Belanda.
2)
Daerah
pemasaran bagi hasil industri dari negeri Belanda.
3)
Daerah
penghasil devisa bagi kepentingan negeri Belanda.
-
Hal
ini terlihat dari peranan perdagangan Hindia Belanda (Indonesia) di masa yang
lalu.
b.
Peranan
Hindia Belanda Dalam Perdagangan
-
Peranan
Hindia Belanda terlihat dari prosentase ekspor terhadap ekspor dunia untuk
beberapa komiditi, antara lain : kina 99%, lada 86%, Kapok 72%, karet 37%,
agave 33%, hasil kelapa 27%, minyak sawit 24%, the 19%, timah putih 17%, gula
5%.
-
Perdagangan
Hindia Belanda sebelum kemerdekaan sebagai berikut :
Impor dari Ekspor ke
Negeri-negeri Asia $ 89.000.000 $ 144.000.000
Negeri-negeri Eropa 141.000.000 117.000.000
Amerika 36.000.000 90.000.000
Afrika 9.000.000 46.000.000
Australia 8.000.000 22.000.000
-
Kira-kira
¼ dari impor Hindia Belanda datang dari Negeri Belanda. Memang merupakan
politik belanda untuk mendahulukan Firma-firma Dagang Belanda.
-
Selama
20 tahun antara kedua perang dunia, neraca perdagangan Hindia Belanda dengan
Amerika mengalami surplus $ 955 juta, sedang nerraca dagang negeri Belanda
dengan Amerika defisit sebesar $900 juta. Surplus dari Hindia belanda ini yang
dipergunakan untuk menutup defisit negeri Belanda.
c.
Pendapatan
Penduduk Indonesia Asli
-
Menurut
data yang dihimpun oleh Polak pada tahun 1942, perekonomian Indonesia telah
mengalami masa-masa pasang surut:
1)
Pendapatan
riil naik dalam tahun-tahun 1923 – 1928 dan 1934 – 1939.
2)
Masa-masa
stagnasi dialami pada waktu terjadi depresiasi dunia tahun 1929 – 1933.
-
Antara
tahun 1921 – 1939 pendapatan riil penduduk Indonesia asli naik 50% (sekitar
2,6% per tahun). Sedang laju pertumbuhan penduduk waktu itu sekitar 1,5% per
tahun.
-
Ini
berarti bahwa pada masa penjajahan Belanda ada peningkatan kesejahteraan hidup
rakyat meskipun kecil dan lambat sekali.
-
B.
PERIODE KEMERDEKAAN
(1) Masa
Demokrasi Liberal (1945 – 1959)
a.
Masalah
yang dihadapi tahun 1945 – 1950
1)
Rusaknya
prasarana-prasarana ekonomi akibat perang
2)
Blokade
laut oleh Belanda sejak Nopember 1946 sehingga kegiatan ekonomi ekspor-impor
terhenti.
3)
Agresi
Belanda I tahun 1947 dan Agresi belanda II tahun 1948.
4)
Dimasyarakat
masih beredar mata uang rupiah Jepang sebanyak 4 miliar rupiah (nilainya rendah
sekali). Pemerintah RI mengeluarkan mata uang “ORI” pada bulan Oktober 1946 dan
rupiah Jepang diganti/ ditarik dengan nilai tukar Rp 100 (Jepang) = Rp 1 (ORI).
5)
Pengeluaran
yang besar untuk keperluan tentara, menghadapi Agresi Belanda dan perang
gerilya.
b. Masalah yang dihadapi tahun 1951 –
1959
1)
Silih
bergantinya kabinet karena pergolakan politik dalam negeri.
2)
Defisit
APBN yang terus meningkat yang ditutup dengan mencetak uang baru.
3)
Tingkat
produksi yang merosot sampai 60% (1952), 80% (1953) dibandingkan produksi tahun
1938.
4)
Jumlah
uang beredar meningkat dari Rp 18,9 miliar (1957) menjadi Rp 29,9 miliar (1958)
sehingga inflasi mencapai 50%.
5)
Ketegangan
dengan Belanda akibat masalah Irian Barat menyebabkan pengambil alihan perusahaan-perusahaan asing (Barat).
Sementara itu di daerah-daerah terjadi pergolakan yang mengarah disintergrasi,
seperti Dewan Banteng, Permesta, PRRI
Selama periode
1949-1956, struktur ekonomi Indonesia masih peninggalan zaman kolonialisasi.
Sektor formal/ modern, seperti pertambangan, distribusi, transpor, bankdan pertanian komersil, yang memiliki
kontribusi lebih besar dari pada sektor informal/ tradisional terhadap output nasional, didominasi
oleh perusahaan-perusahaan asing yang kebanyakan berorientasi ekspor komoditi primer.
c. Rencana dan Kebijaksanaan Ekonomi
Memang sebelum
pemerintahan Soeharto, Indonesia telah memiliki empat dokumenn perencanaan pembangunan, yakni :
1)
Rencana
dari Panitia Siasat Pembangunan Ekonomi yang diketuai Muhammad Hatta (1947).
2)
Rencana
Urgensi Perekonomian (1951) – yang diusulkan oleh Soemitro Djojokusumo.
3)
Rencana
Juanda (1955) – Rencana Pembangunan Lima Tahun I meliputi kurun waktu
1956-1960.
4)
Rencana
Delapan tahun “Pembangunan Nasuional Semesta Berencana” pada masa demokrasi
terpimpin ala Soekarno.
Mengingat situasi
keamanan (Agresi Belanda 1947, 1948, pemberontakan PKI di Madiun 1948) dan silih bergantinya
kabinet maka tidak dimungkinkan adanya program kebijaksanaan
yang bisa dijalankan secara konsisten dan dan berkesinambungan. Antara tahun 1949-1959 terjadi 7 kali pergantian kabinet
(yang rata-rata berumur 14 bulan) sehingga cukup sulit menilai program ekonomi apa yang telah berhasil
diterapkan masing-masing.
Pada awal tahun 50-an
kebijaksanaan moneter di Negara ini cenderung bersifat konservatif (jumlah uang yang beredar tumbuh dengan mantap, tetapi
terkendalikan dengan laju 22 % per tahun antara 1951 – 1956). Kemudian
selama tahun-tahun terakhir dasawarsa 50-an
jumlah uang yang beredar tumbuh dengan lebih cepat antara 1956 – 1960). Kebijaksanaan moneter selanjutnya semakin
terkesan sebagai hasil sampingan dari dunia politik
dan dari kebutuhan untuk membiayai defisit APBN yang semakin membesar.
(2) Masa
Ekonomi Terpimpin( 1959 – 1966 )
a.
Masalah
yang dihadapi
1)
Selama
Orde Lama telah terjadi berbagai penyimpangan, dimana ekonomi terpimpin yang
mula-mula disambut baik oleh bung Hatta, ternyata berubah menjadi ekonomi
komando yang statistik (serba negara). Selama periode 1959 – 1966 ini
perekonomian cepat memburuk dan inflasi merajalela karena politik dijadikan
panglima dan pembangunan ekonomi disubordinasikan pada pembangunan politik.
2)
Ada
hubungan yang erat antara jumlah uang yang beredar dan tingkat harga.
Tahun
|
DJUB
(%)
|
DHarga
(%)
|
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
|
39
42
99
95
156
280
763
|
19
72
158
128
135
595
635
|
Sumber : Bank Indonesia, Laporan
Tahunan jakarta, Berbagai Edisi.
Selama tahun 60-an sumber
penciptaan uang oleh sektor pemerintah merupakan penyebab terpenting dari
naiknya jumlah uang yang beredar.
3)
Tahun
1960-an cadangan devisa yang sangat rendah mengakibatkan timbulnya kekurangan
bahan mentah dan suku cadang yang masih harus diimpor dan diperkirakan dalam
tahun 1966 sektor industri hanya bekerja 30% dari kapasitas yang ada.
b.
Rencana
dan Kebijaksanaan Ekonomi
-
Rencana
: pembangunan nasional semesta berencana (PNSB) 1961-1969. Rencana pembangunan
ini disusun berlandasarkann “Manfesto Politik 1960” untuk meningkatkan
kemakmuran rakyat dengan azas ekonomi terpimpin.
-
Faktor
yang menghambat/ kelemahannya antara lain :
1)
Rencana
ini tidak mengikuti kaidah-kaidah ekonomi yang lazim.
2)
Defisit
anggaran yang terus meningkat yang mengakibatkan hyper inflasi.
3)
Kondisi
ekonomi dan politik saat itu: dari dunia luar (Barat) Indonesia sudah
terkucilkan karena sikpanya yang konfrontatif. Sementara di dalam negeri
pemerintah selalu mendapat rongrongan dari golongan kekuatan politik
“kontra-revolusi”.
-
Beberapa
kebijaksanaan ekonomi – keuangan:
1)
Dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 1/M/61 tanggal 6 Januari 1961: Bank Indonesia
dilarang menerbitkan laporan keuangan/ statistik keuangan, termasuk analisis
dan perkembangan perekonomian Indonesia.
2)
Pada
tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno memproklamirkan berlakunya Deklarasi
Ekonomi dan pada tanggal 22 Mei 1963 pemerintah menetapkan berbagai peraturan
negara di bidang perdagangan dan kepegawaian.
3)
Pokok
perhatian diberikan pada aspek perbankan, namun nampaknya perhatian ini
diberikan dalam rangka penguasaan wewenang mengelola moneter di tangan
penguasa. Hal ini nampak dengan adanya dualisme dalam mengelola moneter.
(3) Masa
Ekonomi Pancasila / Orde Baru(1966 – 1998)
I)
MASA
STABILISASI DAN REHABILITASI (1966 – 1968)
a.
Masalah
yang dihadapi
-
Menanggapi
masalah ekonomi yang kin dengan tajam disoroti oleh MPRS, maka Prof. Dr.
Widjojo Nitisastro dalam percakapan dengan wartawan Kompas menyatakan, bahwa
sumber pokok kemerosotan ekonomi ialah penyelewenangan pelaksanaan UUD 1945.
sebagai misal pasal 33 yang selama beberapa tahun ini dengan sengaja atau tidak
telah didesak oleh landasan-landasan ideal yang lain. Demikian pula realisasi
Pancasila dalam bidang ekonomi sering dilupakan. Misalnya sila Kedaulatan
Rakyat tercermin dalam pasal 23 yang mengatur anggaran belanja Negara.
-
Periode
ini dikenal sebagai periode stabilisasi dan rehabilitasi sesuai dengan masalah
pokok yang dihadapi, yaitu :
1)
Meingkatnya
inflasi yang mencapai 650% pada tahun 1965
2)
Turunnya
produksi nasional di semua sektor
3)
Adanya
dualisme pengawas dan pembinaan perbankan. Dualisme ini muncul dari struktur
organisasi perbankan yang meletakkan Deputy Menteri bank Sentral dan Deputy
Menteri Urusan Penertiban bank dan Modal Swasta berada di bawah Menteri
Keuangan.
b.
Rencana
dan Kebijaksanaan Ekonomi
-
Ketetapan
MPRS Nomor XXIII/MPRS/1966 tentang :
Pembaharuan kebijaksanaan landasan
ekonomi, keuangan dan pembangunan, tertanggal 5 Juli 1966, antara lain
menetapkan :
(1) Program stabilisasi
dan rehabilitasi : 1966 – 1968
(jangka pendek)
·
Skala
Prioritasnya
1)
Pengendalian
inflasi
2)
Pencukupan
kebutuhan pangan
3)
Rehabilitasi
prasarana ekonomi
4)
Peningkatan
kegiatan ekspor
5)
Pencukupan
kebutuhan sandang
·
Komponen
Rencananya
1)
Rencana
fisik dengan sasaran utama :
(a)
Pemulihan
dan peningkatan kapasitas produksi (pangan, ekspor dan sandang)
(b)
Pemulihan
dan peningkatan prasrana ekonomi yang menunjang bidang-bidang tersebut.
2)
Rencana
Moneter dengan sasaran utama :
(1)
Terjaminnya
pembiayaan rupiah dan devisa bagi pelaksanaan rencana fisik.
(2)
Pengendalian
inflasi pada tingkat harga yang relatif stabil sesuai dengan daya beli rakyat.
·
Tindakan
dan Kebijaksanaan Pemerintah
1)
Tindakan
pemerintah “banting stir” dari ekonomi komando ke ekonomi bebas demokratis;
dari ekonomi tertutup ke ekonomi terbuka; dari anggaran defisit ke anggaran
berimbang.
2)
Serangkaian
kebijaksanaan Oktober 1966, Februari 1967 dan Juli 1967 antara lain :
(1)
Kebijaksanaan
kredit yang lebih selektif (penentuan jumlah, arah, suku bunga)
(2)
Menseimbangkan/
menurunkann defisit APBN dari 173,7% (1965), 127,3% (1966), 3,1% (1967) dan 0%
(1968).
(3)
Mengesahkan
/ memberlakukan undang-undang :
(4)
UU
Pokok Perbankan No. 14/ 1967
(5)
UU
Perkoperasian No. 12/ 1967
(6)
UU
Bank Sentral No. 13/ 1968
(7)
UU
PMA tahun 1967 dan UU PMDN tahun 1968
(8)
Membuka
Bursa Valas di Jakarta 1967.
(2)
Program
Pembangunan dimulai tahun 1969/ 1970
(jangka panjang)
-
Skala
Prioritasnya
1)
Bidang
pertanian
2)
Bidang
prasarana
3)
Bidang
industri/ pertambangan dan minyak
-
Jangka
waktu dan strategi pembangunan
1)
Pembangunann
jangka menengah terdiri dari pembangunan Lima Tahun (PELITA) dan dimulai dengan
PELITA I sejak tahun 1969/ 1970
2)
Pembangunan
Jangka Panjang dimulai dengan pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT – I)
selama 25 tahun, terdiri dari :
§
PELITA
I 69 / 70 = 73 / 74
Titik berat pada sektor pertanian dan
industri yang menunjang sektor pertanian.
§
PELITA
II 74/75 – 78/79
Titik berat pada sektor pertanian dengan
meningkatkan industri pengolah bahan mentah menjadi bahan
baku.
§
PELITA
III 79/80 – 83/84
Titik berat sektor pertanian (swasembada
beras) dengan meningkatkan industri pengolah bahan baku
menjadi barang jadi.
§
PELITA
IV 84/85 – 88/89
Titik berat pertanian (melanjutkan
swasembada pangan) dengan meningkatkan industri penghasil
mesin-mesin.
§
PELITA
V 89/90 – 93/94
Sektor pertanian untuk memantapkan
swasembada pangan dengan meningkatkan sektor industri penghasil komoditi
ekspor, pengolah hasil pertanian, penghasil mesin-mesin dan industri yang
banyakk menyerap tenaga kerja.
PELITA
V meletakkan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan selanjutnya.
(4)
MASA PEMBANGUNAN EKONOMI (1969 –
sekarang)
A.
MASA
OIL BOOM (1973 – 1982)
-
Dua
kali Oil Boom dalam PJPT I :
1)
Oil
Boom I (1973/1974)
Oil Boom I
terjadi ketika harga minyak di pasar dunia melonjak dari US$1.67/ barrel (1970 menjadi US$
11.70/barrel (1973/74), karena adanya krisis
minyak sebagai akibat tindakan boikot negara-negara OPEC (timur Tengah) yang
sedang konflik dengan Israel.
2)
Oil
Boom II (1979/1980)
Harga minyak
yang telah menapai US$ 15.65/ barrel (1979) melonjak lagi menjadi US$ 29.50/ barrel (1980), terus melonjak US$
35.00 (1981 – 1982)
a.
Masalah
yang dihadapi
Oil Boom disamping memberi dampak
positif juga membawa dampak negatif (masalah)
a)
Dampak
Positif (menguntungkan)
Selama Pelita I, II, III (1973/74 – 1979/80) nilai
keseluruhan ekspor Indonesia meningkat :
1)
Awal
Pelita I US$ 1 miliar meningkat menjadi US$ 3,6 miliar (akhir Pelita I)
2)
Awal
Pelita II US$ 7,1 miliar meningkat menjadi US$ 11,3 miliar (akhir Pelita II).
3)
Puncaknya
mencapai US$ 23,6 miliar pada tahun 1981/1982.
Laju pertumbuhan ekonomi cednderung
meningkat :
1)
Tiap
Pelita rata-rata : 7% (Pelita I), 7,2% (Pelita II) dan 6,5% (Pelita III).
2)
Terus
meningkat mencapai 9,9% (1980), kemudian menurun 7,9% (1981) dan merosot
menjadi 2,3% pada waktu resesi ekonomi tahun 1982.
b)
Dampak
Negatif (Merugikan)
1)
Bangsa
Indonesia menjadi manja, hidupnya boros dan mewah seperti, terlihat :
-
Nilai
ekspor naik 6,8 per tahun tapi diikuti naiknya nilai impor yang lebih tinggi,
yaitu 16,6% per tahun. (Mubyarto, 1988).
-
Kebutuhan
modal asing (pinjaman lunak) tidak menurun: rata-rata US$ 562 juta per tahun
(1970-1973), malahan meningkat rata-rata US$ 1,646.9 juta per tahun
(1974-1984).
2)
Bangsa
Indonesia menderita penyakit belanda (the Dutch disease), gejalanya terlihat
antara lain :
-
Laju
inflasi dalam negeri lebih tinggi dari inflasi dunia (negara partner dagang)
sebagai akibat besarnya monetisasi penerimaan negara dalam valas.
-
Defisit
APBN (dalam rupiah) ditutup dengan surplus penerimaan (dalam valas). Akibatnya
jumlah uang beredar meningkat, inflasi meningkat.
-
Laju
pertumbuhan yang uang beredar jauh lebih besar, rata-rata 34,9% sedang lalu
pertumbuhan ekonomi rata-rata 8% per tahun selama 1972 – 1981.
b.
Rencana
dan Kebijaksanaan Pemerintah
-
Masa
Oil Boom (1973/74 – 1981/82) berlangsung sepanjang waktu pelaksanaan PELITA I –
PELITA III (akhir tahun PELITA I sampai pertengahan tahun PELITA III)
-
Kebijaksanaan
tiga PELITA antara lain:
·
PELITA
I ; sebagian besar anggaran pemerintah dialokasikan di bidang ekonomi, yaitu
78,28%, untuk sektor pertanian dan irigrasi, sektor perhubungan dan pariwisata,
industri dan pertambangan serta sektor pedesaan.
·
PELITA
II : kebijaksanaan ekonomi periode ini berkisar pada :
§
Kebijaksanaan
stabilisasi 9 April 1974 (menyangkut aspek moneter, fisikal dan perdaganagn).
§
Keibjaksanaan
devaluasi rupiah terhadap dollar AS (kurang lebih 45%) pada bulan Nopember
1978.
·
PELITA
III : Unsur pemertaan lebih ditekankann melalui delapan jalur
pemeraataan-pemertaan:
§
1. Kebutuhan pokok rakyat (pangan, sandang)
2.
Kesempatan
memperoleh pendidikan, kesehatan
3.
Pembagian
pendapatan
4.
Perluasan
kesempatan kerja
5.
Usaha,
terutama golongan ekonomi lemah
6.
Kesempatan
berpartisipasi (pemuda, wanita
7.
Pembangunan
antar daerah
8.
Kesempatan
memperoleh keadilan
§
Kebijaksanaann
Januari 1982 : keringan kredit ekspor, penurunan biaya gudang, pelabuhan dan
bebas memiliki devisa.
§
Eksportir
dibebaskan dari kewajiban menjual devisa yang diperolehnya dari hasil ekspor
barang/ jasa kepada bank Indonesia.
§
Di
bidang impor juga diberikan keringnan bea masuk dan PPN Impor untuk
barang-barang tertentu.
§
Kebijakan
imbal beli Januari 1983 : mengatur ekspor-impor dengan cara imbal beli untuk
mengurangi pemakaian devisa.
§
Di
bidang perkreditan pelaksanaan KIK/ KMK semakin disempurnakan dengan Keppres
No. 18/1981
Pertumbuhan ekonomi pada
periode ini dihambat oleh reseeese dunia yang belum juga berakhir. Sementara itu nampak ada
kecenderungan harga minyak yang semakin menurun khususnya pada tahun-tahun terakhir Repelita III.
B.
MASA
PASCA OIL BOOM (1983 – 1987)
-
Harga
minyak mencapai US$ 35.00/ per barrel (1981 – 1982), menurun lagi menjuadi US$
29.53/ barrel (1983 – 1984) dan tahun-tahun berikutnya harga berfluktuasi tidak
menentu. Sejak tahun 1983 perekonomian Indonesia memasuki masa Pasca Oil Boom
(Pasca Bonanza Minyak)
-
Tahun
1986 terjadi goncangan ekonomi akibat merosotnya harga minyak sampai titik
terendah US$ 9,83/ barrel. Program refromasi ekonomi (pemulihan) mulai
menampakkan hasil pada tahun 1998.
a.
Masalah-masalah
yang dihadapi
Merosotnya harga minyak di pasar internasional sepanjang tahun 1983 –
1987 menimbulkan masalah berat bagi
perekonomian Indonesia karena penerimaan sektor migas menurun; defisit
transaksi berjalan dan defisit APBN meningkat.
Dampak turunnya harga minyak :
1)
Penerimaan
migas dari hasil ekspor menurun 2,0% menjadi US$ 14.449 juta (1983/1987) dan
menurun lagi 44,0% menjadi US$ 6.966 juta (1986/1987).
2)
Defisit
transaksi berjalan meningkat dari US$2..888 juta menjadi US$4.151 juta
(1983/1984) dan meningkat lagi dari US$1.832 juta menjadi US$ 4.051 juta
(1986/1987).
3)
Defisit
APBN meningkat dari Rp 1.938 triliun menjadi Rp 2.742. triliun (1983/1984) dan
meningkat lagi dari Rp 3.571 triliun menjadi Rp 3.589 triliun (1986/1987).
Sedangkan anggaran pembangunan berkurang Rp 2.777 triliun atau 23,7% dibanding
tahun yang lalu karena pada tahun 1986/1987 banyak proyek yang ditunda/
dipangkas. (angka-angka diolah kembali dari laporan BI tahun yang
bersangkutan).
b.
Rencana
dan Kebijaksanaan Pemerintah
Masa Pasca Oil Boom terjadi pada
tahun ke-5 PELITA III (1983/1984) sampai tahun ke-3 PELITA IV (1986/1987).
Kebijaksanaan tahun 1983 – 1984 :
1)
Devaluasi
Rupiah terhadap US Dollar (US$ 1 = Rp 702 menjadi US$ = Rp 970) untuk
memperkuat daya saing.
2)
Menekan
pengeluaran pemerintah dengan pengurangan subsidi dan penangguhan beberapa
proyek pembangunan
3)
Kebijaksanaan
moneter perbankan 1 Juni 1983 (PAKJUN 1983) :
-
Kebebasan
menentukan suku bunga deposito dan pinjaman bagi bank-bank pemerintah
-
Pemerintah
menerbitkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) sejak Pebruari 1984 dan memberikan
fasilitas diskonto keapada bank-bank umum yang mengalami kesulitan likuiditas
(SBPU mulai digunakan Pebruari 1985).
4)
Kebijaksanaan
perpajakan : memberlakukan seperangkat Undang-undang Pajak Nasional (1984).
Kebijaksanaan Reformasi Ekonomi 1986 – 1987 :
-
Kebijaksanaan
ini terutama diarahkan untuk mencegah memburuknya neraca pembayaran, mendorong
ekspor non migas, mendorong penanaman modal dan meningkatkan daya saing produk
ekspor (non migas) di pasar dunia.
a)
Sektor
Fiskal/ Moneter :
1)
Pemerintah
melakukan penghematan antara lain dengan mengurangi subsidi; meningkatkan
penerimaan melalui intensiftikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak.
2)
Devaluasi
rupiah terhadap US Dollar sebesar 31% (dari US$ 1 = Rp 970 menjadi US$ 1 = Rp
1.270)
3)
Tidak
menaikkan suku bunga instrumen moneter untuk mendorong kegiatan ekonomi dan
pengerahan dana serta memperbaiki posisi neraca pembayaran.
4)
Pemerintah
menghapus ketentuan pagu swap ke Bank Indonesia untuk mendoirong pemasukan
modal asing dan dana dari luar negeri.
b)
Sektor
Riil (struktural) :
1)
PAKMI
– 1986 (6 Mei 1986) menyangkut ekspor: kemudahan tata niaga, fasilitas
pembebasan dan pengembalian bea masuk, pembentukan kawasan berikat.
2)
PAKTO
– 1986 ( 25 Oktober 1986) menyangkut impor: mengganti “sistem non tarif” dengan
“sistsem tarif” untuk mencegah manipulasi harga barang. Penyempurnaan bea masuk
dan bea masuk tambahan.
3)
PAKDES
– 1986 (29 Desember 1986) : memberi kemudahan-kemudahan kepada
perusahaan-perusahaann industri strategis tertentu.
-
Program
penyesuaian ekonomi struktural dan reformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah
Indonesia sejak anjloknya harga minyak di pasar dunia pada pertengahan tahun
1980-an mencakup empat katagori besar, yaitu : (1) pengaturan nilai tukar
rupiah (exchange rate management), (2) kebijakan fiskal, (3) kebijakan moneter
dan keuangan serta (4) kebijakan perdagangan dan deregulasi atau reformasi di
sektor riil dan moneter.
-
Beberapa
hasil Reformasi Ekonomi 1986 – 1987 :
1)
Laju
pertumbuhan ekonomi meningkat dari 4,9% (1987) menjadi 5,8% (1988)
2)
Nilai
total ekspor meningkat dari US$ 17.206 juta (1987) menjadi US$ 19.509 juta
(1988) Prosentasi ekspor non migas meningkat dari 50,2% (1987) menjadi 59,8%
(1988).
3)
Defisit
transaksi berjalan menurun : uS$2.269 juta (1987) menjadi US$1.552 juta (1988).
-
Meskipun
adanya perbaikan dalam lingkungan ekonomi eksternal, termask pemulihan harga
minyak, telah membantu Indonesia dalam proses penyesuaiannya, usaha dan
tindakan setelah tahun1986 berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan struktural dan
finansial yang tepat tela memainkan peranan penting.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan penyesuaian yang dijalankan sejak tahun 1986 telah
memperkuat kemampuan ekonomi Indonesia untuk berdaya tahan terhadap goncangan
yang merugikan.
C.
KEGIATAN EKONOMI MEMANAS
(OVERHEATED) SEJAK 1990
-
Ekspansi
kegiatan ekonomi selama tahun-tahun 1989-1991 ada sangkut pautnya dengan
kebijaksanaan deregulasi pemerintah,
yang sudah mulaid ilaksanakan secara bertahap sejak tahun 1983. Rangkaian
tindakan deregulasi di atas memberi dorongan kuat terhadap kegiatan dunia
swasta, yang beberapa tahun terakhir ini telah menjadi faktor penggerak dalam
ekspansi ekonomi.
-
Ekspansi
ekonomi di atas telah disertai oleh ekspansi moneter yang besar, sebagai akibat
naiknya permintaan domestik (domestic demand) yang mencakup tingkat investasi
maupun tingkat konsumsi. Ekspansi ekonomi yang ditandai oleh laju
pertumbuhan pesat selama tiga tahun
berturut-turut ini dianggap terlalu panas (overheated) dari sudut kestabilan
keuangan moneter.
a.
Masalah-masalah
yang dihadapi
-
Kecenderungan
terjadinya ekspansi ekonomi berbarengan dengan ekspansi moneter, sehingga
ekonomi memanas (overheated) jika dibiarkan berlangsung terus akan membahayakan
kestabilan ahrga dalam negeri dan melemahkan kedudukan negara kita dalam
hubungan ekonomi internasional (khususnya dibidang neraca pembayaran luar Negeri).
Indikator Ekspansi Ekonomi
1)
Laju
pertumbuhan ekonomi yang meningkat : 5,8% (1988), 7,5% (1989), 7,1 (1990)
2)
Investasi
dunia swasta yang meningkat : 15% (1983), 17% (1991). Pangsa investasi asing
berkisar 25% dari total nilai investasi swasta domestik.
Indikator Ekspansi Ekonomi
1)
Jumlah
uang beredar meningkat : 40% (189), 44% (1990)
2)
Kredit
perbankan meningkat : 48% (1989), menjadi 54% (1991)
3)
Laju
inflasi meningkat : 5,5% (1988), 6,0% (1989) 9,5% (1990-1991)
4)
Defisit
tahun berjalan meningkat : US$1.6 miliar (1989), US$3.7 miliar (1990) dan
US$4.5 miliar (1991).
b.
Rencana
dan Kebijaksanaan Pemerintah
-
Berlangsungnya
proses pemulihan ekonomi sampai kegiatan ekonomi meningkat cepat sehingga
memanas (overheated) berlangsung selama tahun ke 4, ke 5 pelaksanaan PELITA IV
dan tahun ke 1 PELITA V (1987/1988 – 1989/1990) dan ekonomi memanas ini
berlangsung terus sepanjang PELITA V
(1989/1990 – 1993/1994)
-
Kondisi
ekonomi yang memanas perlu didinginkan dengan kebijaksanaan uang ketat.
-
Kebijaksanaan
uang ketat (TMP = tight money policy)
Untuk “mendinginkan” kondisi
ekonomi yang terlalu panas dilakukan kebijaksanaan fiskal dan moneter/
perbankan :
1)
Meningkatnya
penerimaan dalam negeri : Rp 28.73 triliun (1989/1990), Rp 39,54 triliun (1990/1991),
Rp 41,58 triliun (1991/1992)
2)
Moneter
/ perbankan :
a)
Membatasi
kredit bank melalui politik diskonto (suku bunga) didukung operasi pasar
terbuka dengan instrument SBI dan SBPU.
b)
Mengawasi
likuiditas bank melalui ketentuan LDR (Loan to Deposit Ratio) dann CAR (Capital
Adequacy Ratio).
Dampak TMP : pertumbuhan ekonomi
menurun dari 6,6% (1991) menjadi 6,3% (1992) dan inflasi menurun dari 9,5%
(1991) menjadi 4,9% (1992). (Soemitro Djojohadikusumo, 1993: angka-angka : Nota
Keuangan dan Rancangan APBN 1994/1995).
D.
KEGIATAN EKONOMI INDONESIA
MENJADI OVERLOADED TAHUN 1996
-
Pertumbuhan
jumlah uang beredar (M2), meningkatnya inflasi, investasi, kredit bank dan
kuatnya arus modal luar negeri, terutama yang bersumber dari hutang swasta luar
negeri serta defisit transaksi berjalan yang makin membengkak, menunjukkan
bahwa kegiatan ekonomi Indonesia berlangsung melampaui daya dukung (kemampuan)
yang ada.
-
Hal
ini menunjukkan, bahwa kondisi ekonomi yang overheated sejak tahun 1990, mulai
tahun 1995/1996 menjadi overloaded, karena :
1)
Meningkatnya
permintaan domestik tidak diimbangi dengan kemampuan menambah penawaran,
sehingga harga-harga meningkat
2)
Maraknya
kegiatan investasi maupun konsumsi, mendorong permintaan kredit perbankan yang
tidak diimbangi pertambahan dana bank menyebabkan naiknya tingkat suku bunga
pinjaman.
3)
Melebarnya
selisih suku bunga dalam dan luar negeri, mendorong masuknya modal luar negeri
terutama hutang swasta, sehingga beban angsuran hutang luar negeri meningkat.
4)
Bersamaan
dengan meningkatnya impor non migas yang tidak diimbangi dengan peningkatan
ekspor non migas, menyebabkan defisit transaksi berjalan makin membengkak.
a.
Masalah-masalah
yang dihadapi
-
Meningkatnya
permintaan domestik, baik permintaan untuk konsumsi maupun investasi, yang
tidak disertai dengan meningkatnya penawaran yang memadai, menimbulkan tekanan pada gangguan keseimbangan internal
dan keseimbangan eksternal.
a)
Gangguan
Keseimbangan Internal :
1)
Meningkatnya
pendapatan nasional dari Rp 300,6 triliunmenjadi Rp 323,5 triliun dan pengeluaran
konsumsi rumah tangga dari Rp 194,1 triliun menjadi Rp 206,3 triliun, yang
tidak diimbangi dengan meningkatnya penawaran, menyebabkan inflasi meningkat
menjadi 8,9%.
2)
Meningkatnya
investasi dari 15,3% menjadi 16,4%, laju kenaikan kredit rata-rata 24,8% (1993/1994 –
1995/1996) melebihi kenaikan dana bank rata-rata sebesar 23,9% per tahun.
Akibatnya suku bunga pinjaman meningkat dari 15,3% menjadi 16,4%.
b)
Gangguan
keseimbangan eksternal
1)
Impor
non migas mengalami pertumbuhan sampai 19,8%, sedangkan ekspor non migas hanya
meningkat 13,9%. Terjadi tekanan pada Neraca pembayaran, sehingga defisit
transaksi berjalan meningkat rationya terhadap PDB dari 2% menjadi 3%.
Akibatnya sektor luar negeri menjadi faktor pengurang pada pembentukan PDB.
2)
Meningkatnya
kebutuhan investasi yang tidak diimbangi pergambahan dana bank dan adanya
perbedaantingkat suku bunga dalam negeri (lebih tinggi) dengan suku bungan di
luar negeri, menyebabkan surplus lalu
lintas modal meningkat dari US$ 4,8 miliar menjadi US$11.4 miliar,
dimana sektor pemerintah defisit US$0,2 miliar sedangkan sektor swasta surplus
US$11.6 miliar, terutama dari hutang swasta ke luar Negeri.
-
Memperhatikan
perkembangan ekonomi sebagaimana yang ditunjukkan oleh indikator-indikator
ekonomi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya fundamental ekonomi
Indonesia pada tahun1995/1996 sudah lemah. Hal ini bertentangan dengan
pernyataan pejabat resmmi yang selalu meyakinkan masyarakat, bahwa masyarakat
tidak perlu khawatir karena fundamental ekonomi masih ”kuat”.
b.
Rencana
dan Kebijaksanaan Pemerintah
-
Hingga
awal tahun 1997 dapat dikatakan bahwa hampir semua orang, di Indonesia maupun
dari badan-badan dunia seperti Bank Dunia, IMF dan ABD tidak menduga bahwa
beberapa negara di Asia akan mengalami suatu krisis moneter atau ekonomi yang
yang sangat besar sepanjang sejarah dunjia sejak akhir perang dunia kedua.
Walaupun sebenarnya sejak tahun 1995 ada sejumlah lembaga keuangan dunia (IMF
dan Bank Dunia) sudah beberapa kali memperingati Thailand dan Indonesia bahwa
ekonomi kedua negara tersebut sudah mulai memanas (overheating economy) kalau
dibiarkan terus (tidak segera didinginkan) akan berakibat buruk.
Kebijaksaanaan Tahun 1995 - 1996
a)
Kebijaksanaan
moneter : diarahkan untuk mengendalikann sumber-sumber ekspansi M2, khususnya
meningkatnya kredit bank dan arus modal luar negeri melalui :
1)
Mekanisme
operasi pasar terbuka (OPT) dengan instrumen SBI dan SBPU
2)
Merubah
ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 3%.
3)
Merubah
ketentuan kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) secara bertahap mencapai
12%.
b)
Kebijaksanaan
Valuta Asing/ Devisa : diarahkan untuk mengurangi dorongan masuknya modal
asing, terutama yang berjangka pendek dengan cara :
1)
Meningkatkan
fleksibelitas nilai tukar rupiah melalui pelebaran spread kurs jual dan kurs
beli rupiah terhadap Dollar Amerika
2)
Menerapkan
penggunaan batas kurs intervensi (perbedaan batas atas dan batas bawwah sebesar
Rp 66,00)
3)
Melakukan
kerja sama bilateral dengan otoritas moneter Malaysia, Singapura, Thailand, Hong
Kong, Philipina melalui transaksi repurchases agreement (repo) surat-surat
berharga.
c)
Kebijaksanaan
sektor Riil 4 Juni 1996 ; dalam rangka meningkatkan efisiensi dan ketahanan
ekonomi serta meningkatkan efisiensi dan ketahanan ekonomi serta meningkatkan daya
saing produksi nasional, meliputi bidang :
1)
Bidang impor mencakup
Antara lain adalah penyederhanaan tata
niaga impor.
2)
Dibidang
ekspor mencakup :
Antara lain penghapusan
pemeriksaan barang ekspor oleh surveyor.
3)
Iklim
Usaha
E.
KRISIS MONETER BULAN JULI 1997
MENJADI KRISIS EKONOMI
-
Tidak
mudah menentukan apa faktor-faktor utama penyebab krisis ekonoim di Indonesia,
karena setiap gejolak ekonomi dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang langsung
(drect factors) dan faktor-faktor yang
tidak langsung (indirect factors) yang mempengaruhinya. Sselain itu dapat pula
dibedakan aadanya faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal, yang
mempengaruhi terjadinya krisis ekonomis, baik yang bersifat ekonomi maupun yang
bersifat noneknomis.
-
Selain
faktor-faktor internal dan eksternal, ada tiga teori alternatif yang dapat juga
dipakai sebagai basic framework untuk menganalisis faktor-faktor penyebab
terjadinya krisis ekonomi di Asia.
a.
Faktor-faktor
Internal
-
Fundamental
ekonomi nasional yang merupakan penyebab krisis ekonomi di Indonesia adala
fundamental makro misalnya : 1) pertumbuhan ekonomi, 2) pendapatan nasional, 3)
tingkat inflasi, 4) jumlah uang beredar, 5) jumlah pengangguran, 6) jumlah
investasi, 7) keseimbangan neraca pembayaran, 8) cadangan devisa dan 9) tingkat
suku bunga.
-
Dilihaat
dari fundamental ekonomi makro, bukan hanya sektor moneter tapi juga sektor
riil mempunyai kontribusi yang besaar terhadap terjadinya krisis ekonomi di
Indonesia, karena dua alasan:
1)
Perkembangann
sektor moneter sebenarnya sangat tergantung dari perkembangan sektor riil,
karena uang (valas) sudah menjadi komoditas yang diperdagangkan seperti
produk-produk dari sektor riil.
2)
Perubahan
cadangan valas sangat sensitif terhadap
perubahan sektor riil (perdagangan luar negeri) dan salah satu penyebab
depresiasi nilai tukar rupiah yang menciptakan krisis ekonomi di Indonesia
adalah karena terbatasnya cadangan valas di Bank Indonesia.
-
Indonesia
akhirnya juga digoncang oleh “pelarian” dollar AS. Ini mencerminkan bahwa
ekonomi Indonesia sangat tergantung pada modal jangka pendek dari luar negeri
(short-term capital inflow). Sumber utama pertumbuhan jumlah cadangan devisa
Indonesia, bukan dari hasil ekspor neto, melainkan dari arus modal masuk jangka
pendek (surplus neraca kapital) (Tulus Tambunan, 1998).
b.
Faktor-faktor
Eksternal
-
Jepang
dan Eropa Barat mengalami kelesuan pertumbuhan ekonomi sejak awal dekade 90-an
dan tingkat suku bunga sangat rendah. Dana sangat melimpah sehingga sebagian
besar arus modal swasta mengalir ke negara-negara Asia Tenggara dan Timur, yang
akhirnya membuat krisis.
-
Daya
saing Indonesia di Asia yang lemah, sedang nilai tukar rupiah terhadap dollar
AS terlalu kuat (overvalued). (Tulus Tambunan, 1998).
c.
Teori-teori
Alternatif
1)
Teori
konspirasi, krisis ekonomi sengaja ditimbulkan oleh negara-negara maju
tertentu, khususnya Amerika, karena tidak menyukai sikap arogansi ASEAN selama
ini.
2)
Teori
contagion, yaitu karena adanya contagion effect; menularnya amat cepat dari
satu negar ake negara lain, disebabkan investor asing merasa ketakutan.
3)
Teori
business cycle (konjungtur), karena proses ekonomi berdasarkan mekanisme pasar (ekonomi kapitalis) selalu
menunjukkan gelombang pasang surut dalam bentuk naik turunnya variabel-variabel
makro (Tulus Tambunan, 1998).
d.
Faktor-faktor
non-ekonomi
1)
Dampak
psikologis dari krisis di Indonesia adalah merebaknya penomena kepanikan,
sehingga para pemilik modal internasional memindahkan modal mereka dari
Indonesia secara tiba-tiba.
2)
Kepanikan
ini kemudian diikuti oleh warga negara di Indonesia, sehingga sekelompok orang
(spekulan) berusaha meraih keuntungan dengan cara menukar sejumlah besar rupiah
terhadap dollar AS.
F.
TERJADINYA KONTRAKSI EKONOMI
SEJAK 1998
-
Krisis
yang terjadi di Indonesia tidak saja telah memaksa rupiah terdepresiasi sangat
tajam tapi juga menimbulkan kontraksi ekonomi yang sangat dalam.
a.
Proses
terjadinya kontraksi ekonomi
-
Penurunan
nilai tukar ruiah yang tajam disertai dengan terputusnya akses ke sumer dana
luar negeri menyebabkan turunnya produksi secara drastis dan berkurangnya
kesempatan kerja.
-
Pada
saat yang sama, kenaikan laju inflasi yang tinggi dan penurunan penghasilan
masyarakat menyebabkan merosotnya daya beli sehingga kesejahteraan masyarakat
menurun drastis dan kantong-kantong kemiskinan semakin meluas.
b.
Indikator
kontraksi ekonomi
Indikator
Makro Ekonomi Tahun 1998
Rincian
|
Triwulan I
|
Triwulan II
|
Triwulan III
|
Triwulan IV
|
Perubahan 0%
|
||||
Produk
domestik bruto riil
(Tahun
dasar 1993)
|
-4,0
|
-12,3
|
-18,4
|
19,5
|
Pengeluaran
konsumsi
|
2,4
|
4,8
|
-13,7
|
-9,5
|
Inflasi
IHK
|
39,1
|
56,7
|
82,4
|
77
|
Suku
bunga PUAB
|
51,8
|
64,6
|
66,2
|
33,4
|
Nilai
tukar (Rp$)
|
14,900
|
10,700
|
8,025
|
8,685
|
-
Berbagai
permasalahan nonekonomi muncul dalam waktu yang relatif bersamaan :
(1)
Kerusuhan
sosial yang menyebabkan berbagai kerusakan di sektor produksi maupun distribusi
(2)
Jaringan
distribusi yang tidak berfungsi sepenuhnya disertai panis buying.
(3)
Pergantian
kepemimpinan nasional dan proses konsolidasi pemerintahan baru turut
memperlambat pemulihan stabilitas ekonomi, sosial dan politik.
c.
Pada
tahun 1998 PDB Riil menyusut 13,7% yang terutama disebabkan oleh kegiatan
investasi dan konsumsi swastaa yang merosot tajam. Penurunan kegiatan investasi
berkaitan dengan makin memburuknya ketidakseimbangan neraca dunia usaha,
memburuknya kondisi perbankan, rendahnya kepercayaan investor dari luar negeri.
G.
MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI
SETELAH KRISIS
-
Yang
menjadi persoalan penting sekarang ini bagi Indonesia adalah menyangkut biaya
krisis atau besarnya “pengorbanan” yang harus dibayar akibat krisis dan lamanya
pengorbanan itu harus dipikul. Setelah
setahun krisis berkalngsung, ternyata biaya krisis yang harus dibayar
masyarakat Indonesia lebih besar dibandingkan di Thailand, Korea Selatan atau
Malaysia.
-
Biaya-biaya
sosial : 1) kerusuhan di mana-mana sejak black May 1998, 2) banyak orang
kekurangan gizi, 3) anak putus sekilah meingkat, 4) kriminalitas makin tinggi.
-
Biaya-biaya
ekonomi : 1) pendapatan per kapita anjolok secara drastis, 2) laju pertumbuhan
PDB menjadi negatif, 3) jumlah pengangguran dan kemiskinan meningkat, 4)
bencana kelaparan ini banyak lokasi, 5) hiperinflasi, dan 6) dengan defisit
anggaran pemerintah dan neraca pembayaran membengkak.
H.
RENCANA
DAN PROGRAM PEMULIAHAN EKONOMI
a.
Rencana:
menurut Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas, Boediono,
pemerintah telah menetapkan empat tahapan strategis :
1)
Tahap
penyelematan (1 – 2 tahun sejak 1998/1999)
2)
Tahap
pemulihan yang sifatnya tumpang tindih dengan tahap sebelumnya (2 tahun)
3)
Tahap
pemantapan (1-2 tahun) setelah selelsai tahap penyelamatan.
4)
Tahap
pembangunan yang dapat dimulai kembali apabila saluran krisis dapat
ditanggulangi.
b.
Program
Pemulihan dan Kebijaksanaan Ekonomi
-
Setelah
menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak dapat
dibendung lagi dan cadangan dollar AS di BI sudah menipisi, maka bulan Nopember
1997 Indonesia minta bantunan IMF untuk mendapat bantuan dana :
1)
Pinjaman
tahap pertama 3 mioliar dollar AS untuk memperkuat dan menstabilkan nilai
rupiah, diterima bulan Nopember 1997.
2)
Bulan
Januari 1998 ditanda tangani nota kesepakatan atau letter of inten (I) yang
memuat 50 point/ ketentuan: kebijaksanaan ekonomi makro (fiskal-moneter)
restrukturisassi keuangan dan reformasi struktural.
3)
Bulan
Maret 1998 dilakukan perundingan baru lagi dan bulan April 1998 ditanda tangani
memorandum tambahan atau letter of inten (II)
Ada lima memorandum tambahan yang
disepakati :
(1)Program stabilisasi pasar uang dan mencegah
hiperinflasi.
(2)Restrukturisasi perbankann dalam rangka penyehatan
sistem perbankan nasional.
(3)Reformasi struktur yang mencakup upaya-upaya dan
sasaran yang telah disepakati (letter of inten-II)
(4)Penyelesaian utang luar negeri swasta (corporate
debt).
(5)Bantuan untuk rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah)
c.
Beberapa
langkah penting, sesuai kesepakatan IMF :
1)
Kebijaksanaan
moneter
2)
Kebijaksanaan
perbankan
3)
Program
kesempatan kerja
4)
Reformasi dan privatisasi BUMN
5)
Restrukturisasi
ULN swasta.
d.
Program
Jaring Pengaman Sosial (JPS) meliputi :
1)
Program
Ketahanan Pangan
2)
Program
padat karya
3)
Program
perlindungan sosial
4)
Program
pemberdayaan ekonomi rakyat
Itulah penjelesan mengenai sejarah perekonomian diIndonesia kurang dan lebihnya mohon dimaklumi Jangan lupa komentar :D
Komentar
Posting Komentar